Sela Tawa Canda Kita

Dini_hari_yang_sepi
Lambat laun NewsRoom ini menyepi dan lerung sunyinya diisi oleh spasial suara-suara dan warna wajah baru. Kawan itu sudah menentukan pilihannya masing-masing untuk penghidupan yang layak. yah diperlakukan selayaknya tanpa pertimbangan finansial dari tempat yang baru.

Aku semakin bertahan saja, meringkuk sunyi, dan mencuri ilmu. Padahal ku tahu waktu itu semakin memburu. Apa salah pikir ku, tak ada kawan bertimbang saran dan kritik. Semuanya hanya menanyakan kapan berpindah. Ah, penat aku dengan jawabanku yang selalu tidak sama satu dengan yang lainnya. Seberapa kuat aku menahan isu itu tidak keluar dengan bebas, tetap saja tembok disini berbicara.

Aku kehilangan sosok intelektual soliter, seniman, dan penganalogis yang kuat. Akhirnya ia mencapai hal yang sama sekali tidak terduga. Selamat kawan, kau kejar mimpi itu. Aku pun kehilangan sosok penceria studio, sepi suasana studio pada saat matahari menyongsong semburatnya yang mulia. Tak ada lagi kecerian studio karena lakunya sebagai tokoh waria, kesalahan bahasa yang tidak sengaja mengucapkan kata ini menjadi indang. "Saksikan tayangannya setelah pariwara berikut indang", yah itulah dari candaan akhirnya benar-benar mengudara nasional.

Dibalik keheningan itu ku coba bertahan sampai ilmu itu benar-benar ku rengkuh dan aku mampu bercinta di atasnya. Selama masih ada partner in crime ku untuk merokok, berbagi secangkir kopi, tawa canda, tempat berkeluh kesah, dan semangat memaki keberhasilan orang. Aku masih bertahan!.

3 Responses to “Sela Tawa Canda Kita”

  1. ANDRI Says:

    aaah…people come and go,kawan…
    yang tidak akan berubah adalah perubahan itu sendiri…
    huehehehe…
    lu jadi cabut?
    huahahahaha…..

  2. Ardian Says:

    huahahaha…monyong lo ndri.
    yang pantes nanya lo jadi cabut tuh mestinya gw.
    gmn?, sukses interviewnya…huahahaha

  3. juNGhh Says:

    maksutnya mau cabut gigi ya kan…?!!!

    selama ada bubur ayam tengah malam… aku tetap mengudara koo… wahahahahaaa….

Leave a Reply